Title : VAMPIRE
Author : Felicia Lee (Fee)
Languages : Bahasa Indonesia,Korean
Genre : Fantasy, Romance
Length : Oneshot
Casts : Eun Soo,Kwangmin,Minwoo
A/N : oke, sebenernya nih cerita gue buat karna stress dengan nilai TO, jadi maklumin aja kalo alur ngaco, banyak typo, dan ceritanya gaje.
Langsung aja deh check it out !
Disclaimer : All characters in my fanfiction are belongs to God and themselves, I’m only own the story line. It’s purely based on my own Ideas without any intervention from author of books nor movies. So I ask sorry if there’s any similarity with a real life.
©FeliciaLee2012. All Rights Reserved. Distribution with any kind are prohibited without the written consent.
- VAMPIRE -
Aku menatapnya dalam, matanya yang berkilat merah mulai berubah normal, deruan nafasnya sudah tidak seperti tadi, kini mulai tenang. Aku memeluknya, dia menaruh kepalanya disekitar leherku, menjilat leherku, membuatku sedikit bergidik.
“mianhe, lagi-lagi aku tidak bisa menahanya didepanmu.” ucapnya pelan, berbisik ditelingaku.
“gwaenchana, aku mengerti.” kuelus pelan punggungnya.
Dia namjachinguku, seorang vampire. Kebiasaan meminum darah itu juga melekat padanya, tadi itu dia mencoba menghisap darahku, tetapi seperti biasa saat kami bertatapan dia mulai tenang dan bisa terkendali. Kejadian ini sudah sering kualami, semenjak 3 tahun lalu, saat aku bertemu dengannya diperpustakaan.
#flashback#
aku baru saja ingin keluar perpustakaan tapi seseorang menahanku, heran? Tentu saja.
Disini tidak ada siapapun kecuali aku, penjaga perpustakaan menghilang entah kemana, ini jam pelajaran tidak mungkin ada siswa yg datang kesini selain aku yg disuruh Kim seongsaenim, dan lagipula aku belum pernah melihat namja ini sebelumnya, tinggi, kulitnya pucat dan matanya menatapku kosong.
“mianhe, nuguseyo?.” ucapku memberanikan diri bertanya padanya. Tiba-tiba dimatanya ada kilatan merah, aku tersentak kaget dan mulai menjauh. Bodohnya aku, malah berlari ke pojok ruang perpustakaan. Dia semakin mendekat, sampai aku terpojok.
“YAA!! Apa yg akan kau lakukan?.” pekikku, kini matanya merah sungguh itu membuatku sangat amat takut.
“diamlah.” ucapnya dingin, dengan suara beratnya.
“tolong, jangan sakiti aku.” aku menunduk, saat mencoba kembali menatapnya dia mengeluarkan taringnya. Aku menatapnya dalam-dalam, entah keberanian dari mana akupun tak mengerti, tapi itu yang disuruh oleh otak dan hatiku. Dia memegang kedua bahuku, menekannya sampai membuatku kesakitan.
“akhh!!.” erangku, dia benar-benar membuat bahuku sakit akibat cengkramannya itu, tapi aku masih menatapnya dalam, dalam seakan aku mengerti dia bukan orang jahat, seakan mengerti kalau dia menahan penderitaannya. Lalu beberapa menit kami berdiam matanya tidak merah, dan cengkramannya dibahuku melemas. Dia lemas dan memelukku menaruh mulutnya ditengkukku, taringnya sedikit menggores leherku tapi kemudian aku tidak merasakan taring itu lagi, terganti dengan lidahnya, kurasa.
“mianhe, mianheyo.” ucapnya pelan, masih memeluk tubuhku. Aku? Aku hanya diam tidak berani menjawabnya.
—
“kau hebat sekali.” kata-katanya membuatku bingung, aku hebat tentang apa?.
“mungkin kau manusia yang ditakdirkan memiliki pasangan seorang vampire, seperti ibuku.” aku melotot mendengar ucapan namja ini.
“MWO?!.” itu reaksiku selanjutnya. “shirreo! Aku mau punya pasangan manusia juga, bukan vampire.” elakku, tuhan mana mungkin aku ditakdirkan bersama vampire? Sial sekali aku.
“aku kan hanya bilang mungkin.” ucapnya enteng, astaga tapi bagaimana kalau benar?.
“yak! Sekarang jelaskan kenapa kau tadi mau memakanku, aku ini bertekanan darah rendah. vampire babo!.” ejekku padanya dia menatapku tajam, akhirnya aku diam dan menunduk, Bagaimana kalau tiba-tiba dia menerkamku lagi?.
“kau yang babo! Memangnya ada hubungan apa dengan tekanan darah!.” hah! Benar juga apa katanya.
#flashback-end#
kulepas pelukanku saat dia kembali normal, tidak lemas seperti tadi.
“sudah baikan?.” tanyaku lembut.
“eum.” gumamnya mengangguk.
“kkaja, kerumahmu sekarang.” ajakku, lalu dia menggandengku naik kemotornya.
—
“eommonim, apa dulu appa kwangmin juga seperti itu?.” tanyaku pada eomma kwangmin, sekarang kami ada di dapur menyiapkan darah hewan untuk namja itu.
“tentu saja, bukankah sudah kuceritakan semuanya padamu, yeoja manis. heum?.” eomma kwangmin tersenyum kearahku, kami memang dekat, tentu saja sejak aku bertemu dengan anaknya.
“maksudku tanggal mereka tidak bisa menahan diri ingin meminum darah.” jelasku lagi, eomma menuangkan teh hijau untukku, sedangkan aku masih sibuk menaruh darah hewan di teko kecil untuk kwangmin.
“tentu saja berbeda, itu sesuai tanggal lahir pasangan mereka kelak.” sekarang hari ke 15 bulan ini, aku juga lahir tanggal 15. Apa benar pada akhirnya aku dan kwangmin….
“kau tau saat kwangmin menemukan dirimu aku dan appa kwangmin senang sekali, setidaknya kau adalah satu-satunya orang yang bisa menjaganya selain kami.” jelas eomma kwangmin.
“eum, eommonim. adakah yeoja lain sepertiku didunia ini? Maksudku, selain eommonim dan aku.” eomma kwangmin berpikir sejenak, lalu matanya menatapku.
“ada, bahkan banyak.” aku sedikit kecewa, bagaimana kalau kwangmin beralih pada yeoja selain aku?.
“kalian akan membuktikannya nanti saat umur kwangmin genap 17 tahun, saat itu kwangmin akan sangat-sangat bernafsu menggigit leher jodohnya, lalu saat itu kau akan berubah. Umurmu dan dia akan sama, kalian sebaya.” jelas eomma kwangmin. Masih beberapa bulan lagi, sedikit lagi.
“apa kwangmin akan menggigit leher yeoja itu? Atau yeoja itu berhasil membuat kwangmin tenang?.” tanyaku, rasanya belum cukup puas dengan penjelasan itu.
“kalau kwangmin menggigitnya kalian akan sebaya, kalau dia tidak menggigitnya hanya menggores sampai sedikit berdahar kalian tetap berjodoh tapi tidak akan sebaya, kalau di tidak menggores sedikitpun kwangmin akan mati.” aku kaget? Bagaimanapun dia aku tetap mencintainya, aku harus rela dia menggigit leherku.
“kalau kwangmin benar-benar memilihku, aku akan pasrah dengan gigitannya.” ucapku, eomma mendadak menggeleng.
“kau tidak bisa seperti itu, seperti biasa, saat kau menatapnya itu bukan kehendakmu melainkan itu dorongan hati dan otakmu.” aku bingung, lalu bagaimana kalau kwangmin tidak menggigitku? Kalau dia mati?.
“tidak apa, percayalah kalau jodoh itu sudah diatur.” ucap eomma kwangmin menguatkanku, seharusnya aku bisa seperti dia.
Kami menghampiri kwangmin yang sedang duduk bersandar dikursi taman belakang rumah ini.
—
hari ini aku datang kerumahnya, menyiapkan perlengkapan sekolahnya bersama eomma kwangmin tentunya, itu sudah kumulai 2 minggu belakangan ini, aku rajin kan?.
Setelah semuanya siap aku berjalan ke pinggir ranjangnya, dia belum bangun juga, pemalas.
Aku tersenyum melihat namja-ku tertidur, manis sekali. Matanya tertutup rapat dengan bulu matanya yang indah itu, bibirnya yang merah itu menutup, pipinya yang mulus tanpa goresan itu lembut sekali, dan rambut itu aku membetulkan poninya, lembut sekali saat aku menyentuhnya. Menatapnya seperti ini aku jadi takut kehilangan sosok itu. Tiba-tiba tangannya melingkari pergelangan tanganku, aku kaget lalu memukul lengannya.
“ishh kau ini, aku kaget tau!.” sentakku, dia malah tertawa.
“kau manis sekali.” ucapannya itu, kurasa mukaku sudah seperti apel merah sekarang.
“cantik.” gumamnya pelan lalu beranjak ke kamar mandi. Aku keluar dari kamarnya dan menunggunya dimeja makan bersama eomma kwangmin.
—
kwangmin mengecup pipiku lalu berjalan ke kelasnya, aku dan dia berbeda 2 tahun. Aku dikelas 10 sedangkan dirinya di kelas 12 saat ini.
“ekhm..” suara deheman itu membuatku menoleh.
“No Min Woo-sshi?.” ucapku sedikit heran, kenapa dia berdehem seperti itu?.
“sunbae itu…..” dia menggantung kata-katanya. “namjachingumu?.” tanyanya, aku diam. Kenapa tiba-tiba dia bertanya seperti ini? Ada urusan apa dengannya?.
“iya, waegurae?.” jawab sekaligus tanyaku.
“gwaenchana, kurasa kau sebaiknya berhati-hati…” lagi-lagi dia menggantung kata-katanya. “dengan darahmu.” ucapnya meninggalkanku.
Dia No Min Woo kelas akselerasi, ketua osis dan siswa populer—sepopuler kwangmin.
—
belakangan ini hubunganku dengan kwangmin sedikit merenggang, bahkan saat aku datangi rumahnya dia beralasan sibuk dengan tugas rumah, dan mengunci diri di kamar.
“eommonim…” aku memeluk eomma kwangmin mencoba memberitahukan perasaanku.
“sabarlah chagi, kwangmin mungkin ada masalah, nanti eommonim coba tanyakan padanya.” eomma kwangmin mengelus lembut rambut yang kuurai.
“gomawo.” ucapku.
—
Kwangmin POV’s
aku cemburu, lagi-lagi melihatnya bersama No Min Woo hanya berdua.
Apa dia tak mau punya namjachingu seperti aku? Karna aku seorang Vampire, hah! Aku benci mengakuinya kalau aku seorang vampire.
“Nanti sore jangan pulang dulu, aku ingin kau membantuku diruang Osis, ada sesuatu yang perlu kau kerjakan sebagai wakil sekertaris, arra?.” setidaknya itu yang kudengar dari mulut ketua Osis itu, sedangkan Yeoja-ku? Dia mengangguk dan menurut saja. Eun Soo-ah bisakah kau menjauhinya? Aku tidak suka kau bersama namja itu.
End Of POV
—
aku berjalan dilorong sekolah ini, sudah sepi. Tentu saja yang lain sudah pulang, aku masih disini juga karna Min Woo yang menyuruhku. Tiba-tiba aku merasa ada seseorang mencengkram tanganku kuat, kurasa tanganku lecet. Saat kutengok Kwangmin muncul didepanku, matanya mulai berkilat merah.
“kwang…” ucapku tak melanjutkan kata-kataku. Dia diam, tidak bersuara. Aku dipojokannya didinding. Menatap matanya dalam, mencoba melepaskan cengkramannya dan menggenggam tangan namja-ku itu. Matanya kini memerah, taringnya keluar, semakin erat juga genggaman kami. Rasa sakit yang ia rasakan kini menjalar padaku, rasanya lebih menyakitkan dari biasanya. Dan aku juga menyadari kalau waktu dia menenangkan diri jauh lebih lama. Matanya meneteska setitik butiran bening air mata, mata itu masih merah tidak pernah ini terjadi sebelumnya.
“hentikan, kau makhluk menjijikan!.” teriak seseorang, aku yakin itu Min Woo. Kwangmin beralih menatapnya, mereka saling menatap lama. Sampai saat Min Woo mulai menyerang Kwangmin.
“kajima! Hentikan! Apa yang kau lakukan padanya minwoo-sshi?.” aku mencoba menengahi mereka tapi tidak mampu.
“ayahku seorang hunter, dan aku harus melakukan ini sebagai penerusnya.” ucapnya yakin masih meladeni Kwangmin. Mereka bertengkar sengit, tiba-tiba saling mengeluarkan sebuah pisau. Kwangmin mengeluarkan pisau dengan ukiran diujungnya berbentuk bulan sabit sedangkan Minwoo mengeluarkan pisau dengan ukiran bintang. Aku shock melihatnya, baru kali ini melihat kwangmin berkelahi. Kwangmin terlihat menguras segala kekuatan yang dimiliki, ini saatnya aku harus menengahi mereka, kutarik kwangmin kedinding lorong ini, memeluknya erat, menggenggam tangannya, menaruh kepalaku didekapan dadanya. Dia berusaha melepaskan diri, tapi tidak melukaiku. Sedangkan minwoo, terakhir kulihat dia berdiri mematung dibelakangku dengan jarak 5 meter.
Aku melepaskan pelukan kami—-tanpa melepas genggaman tangan kami. Menatapnya dalam, dalam seakan mengatur dirinya untuk tenang, perlahan-laha matanya yang merah berubah, taringnya memendek dan akhirnya menghilang, dia lemas, tidak kuat menahan beban badannya dia bersandar padaku, aku yang hampir jatuh ditahan minwoo dengan lengannya itu. Kwangmin menjilat tengkukku—-seperti biasa membuat luka yang sempat dibuatnya tadi basah.
“Cih!! Menjijikan!.” ucap minwoo aku sedikit menoleh.
“tolong jangan berkata seperti itu minwoo-sshi!.” bentakku padanya, kwangmin hanya diam, aku bisa meresakan badannya masih lemas.
“kau sudah tau dia Vampire dan tidak menjauhinya? Tidak takut dengannya?.” tanya minwoo sambil menunjuk kwangmin yang lemas.
“aku sudah mengetahuinya sejak 3 tahun lalu! Dan aku mencintainya, tidak akan meninggalkannya! Puas?.” aku senang bisa bicara seperti itu, semuanya akan jelas kalau seperti ini.
“kkaja kwang-ah kita kerumahmu.” ajakku padanya, dia sudah tidak selemas tadi.
“bangsa vampire selalu merebut cinta hunter, licik!.” aku masih bisa mendengar minwoo berkata saat kami menjauh.
—
“jebal, jangan tinggalkan aku.” kwangmin menggenggam tanganku erat, aku hanya tersenyum dan mengangguk. Dia memelukku erat, kami terdiam sejenak. Tiba-tiba eomma kwangmin memasuki kamar, kami melepas pelukan kami.
“appa min woo itu mantan namjachingu eomma.” kata-kata eomma kwangmin memecah keheningan, aku baru bisa memprosesnya, mungkin karna kaget.
“maka dari itu dia mengatakan kalau bangsa vampire selalu merebut cinta hunter.” lanjut eomma kwangmin lagi.
“dan satu lagi kemungkinannya, dia mencintaimu eun soo-ah.” aku terbelalak, lalu menoleh ke kwangmin yang mengeratkan
Genggaman tangannya.
“kuatkan cinta kalian, akan ada banyak cobaan sebelum kalian dipastikan berjodoh.” eomma kwangmin menepuk bahu kami bergantian, lalu keluar dari kamar ini. Aku menatap kwangmin dalam, begitu juga sebaliknya.
“pasti bisa! Hwaiting!!.” ucapku mencoba membuat kwangmin tersenyum, dan akhirnya dia tersenyum.
—
lagi-lagi aku melihat mereka bertengkar, memang saat ini kwangmin terlihat lebih kuat karna hari ini bukan tanggal 15 tapi aku tetap khawatir dengannya.
“minwoo-sshi!.” panggilku dia menoleh dan saat itu kwangmin melukai lengannya. Aku terkejut, sungguh tidak bermaksud mengalihkan perhatiannya.
“akhh!!.” dia meringis kesakitan, menjatuhkan pisaunya. Aku menghampirinya menutup lukanya dengan syal yang kupakai mencoba menghentikan darahnya yang mengalir itu. Aku menuntunnya duduk kekursi yang kebetulan ada didekat kami, sekilas aku melihat namjachinguku, dia menatapku nanar. Maafkan aku kwang, tapi aku merasa bersalah pada minwoo, aku janji akan menemanimu nanti.
Aku menatapnya memohon, namun dia pergi meninggalkan aku dan minwoo.
“aku mencintaimu~” ucap minwoo tiba-tiba, dia menatapku tapi kemudian matanya tidak bisa bertahan lama menatapku, kilatan hijau dimatanya mengelak menatapku, berganti dengan tangannya yang menggenggam tanganku erat. Aku tidak segera menjawab, tepatnya tidak ingin menjawab pernyataan itu.
—
aku memasuki kamar kwangmin, aromanya benar-benar sama dengan kwangmin.
Kulihat dia bersandar disandaran ranjang, sambil terlelap. Aku mendekat kearahnya, membenarkan letak tidurnya. Lalu duduk di samping ranjang itu yang beralas karpet bulu dan meletakan kepalaku pada lengannya—yang ada diatas ranjang.
“aku berjanji tidak akan meninggalkanmu, walau kau meninggalkanku.” gumamku lalu menutup mataku, mencoba terlelap disampingnya.
—
aku berjalan melewati lorong-lorong menuju ke ruang kelas ku, hari ini berbeda, aku tidak bersama kwangmin.
“kajima!.” teriak seseorang, aku berhenti namun belum menoleh.
“kau belum menjawabnya.” itu pasti minwoo.
“untuk apa aku menjawabnya, kau sudah tau kalau aku yeojachingu seseorang bukan?.” terdengar langkah kaki mendekat kearahku.
“tapi……” dia menghentikan kata-katanya.
“dia vampire, dia juga bisa mengubahmu menjadi vampire.” lanjutnya setelah lama hening diantara kami.
“aku tau itu, tapi aku mencintainya, tulus mencintainya~.” tegasku, lalu meninggalkannya sendiri. Aku melanjutkan jalanku menuju ruang kelas sampai tepat disamping tikungan lorong tadi aku melihat kwangmin menatapku sendu.
“gomawoyo, eun soo-ah.” tiba-tiba aku sudah ada dipelukannya, aku tersenyum sekarang semuanya jelas, dan kuharap kami bisa segera memastikan kalau kami berjodoh, atau tidak.
—
hari ini kwangmin genap 17 tahun, aku berjalan cepat kearah perpustakaan. Mencari Kwangmin yang sejak pagi tadi sudah menghilang, sekarang aku tidak tau keberadaannya, aku mencoba mencari diberbagai tempat di sekolah ini. Aku memasuki perpustakaan dan tersenyum kearah penjaga perpustakaan, lalu masuk menelusuri deretan buku-buku yang tersusun rapi di rak-nya masing-masing. Dia tidak ada disana, aku sama sekali tidak menemukannya. Aku mendesah putus asa, kemana aku harus mencarinya. Padahal tadi kata eommonim, kwangmin masuk sekolah, tapi dia tidak ada dimanapun. Aku berjalan ke arah balkon samping perpustakaan, menatap langit. Angin yang lewat menerpa wajahku tenang, mengibarkan rambut yang kuurai. Hari ini, hari ini semuanya akan jelas, aku harus bisa menerima semuanya. Walaupun nanti kami tidak bisa bersama aku tidak akan meninggalkannya. Tiba-tiba aku melihat kwangmin terduduk di halaman belakang sekolah, dia memegang pisau dengan sedikit darah menempel, lalu aku mengalihkan pandanganku, minwoo juga ada disana lengannya terluka. Sepertinya mereka bertengkar. Tidak lama mereka bangkit dan meneruskan perang mereka, aku harus bagaimana? Aku bingung. Aku berlari melewati lorong dan anak tangga, menuju halaman belakang sekolah. Aku berdiri mematung melihat mereka masih saja bertengkar.
Kulihat mereka sama-sama kehilangan kekuatan, tapi masih memaksakan diri. Kaki minwoo bahkan sudah meneteskan banyak darah, sedangkan kwangmin lengannya sudah penuh darah. Kwangmin mencoba melukai bagian leher minwoo tapi belum berhasil. Giliran minwoo yang melukai kwangmin, dan berhasil, lengan kwangmin lagi-lagi terluka. Mereka sudah lemas, terduduk direrumputan halaman itu. Aku menghampiri kwangmin, menuntunnya berdiri dan memeluknya erat untuk beberapa saat. Tiba-tiba aku merasa seperti tersengat listrik, kami melepaskan pelukan kami. Aku menatap wajahnya yang terciprat darah. Matanya berkilat, taringnya sudah muncul. Kami saling menatap dalam, mencoba bertukar pikiran dalam tatapan mata. Aku bisa merasakan dia semakin lemas, tapi kami belum selesai bertatap aku ingin sekali menghentikan tatapan ini dan membiarkan dia menggigitku, tapi entahlah semuanya tidak bisa kulakukan. Mataku tergerak untuk menatapnya. Dia semakin lemas, tapi matanya masih berkilat merah dan taringnya belum hilang.
Apa artinya ini? Apa kami tidak berjodoh? Bagaimana kalau dia tidak menggigitku? Bagaimana kalau dia meninggalkanku?.
Tatapanku mulai memudar, dia menutup matanya pelan kini kepalanya jatuh bersandar di bahuku. Mungkin….. Kami memang tidak berjodoh.
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
“akhhhh!!!” aku mengerang kesatikat bisa kurasakan tengkukku terluka, dan semuanya terlihat gelap.



